GENERASI MENUNDUK
Oleh : Slamet Rianto,
Aktor dibalik cerita
"Ketika kita membuka
gadget, secara otomatis kita menutup pintu interaksi dengan yang lain” – penulis
Lama tidak berkumpul
bersama keluarga yang berada dirumah. Akhirnya saya menyempatkan untuk pulang
ke kota saya. Yang telah lama aku tingal karna menempuh pendidikan perguruan
tingi di kota Malang. Bersama setelah sampai dirumah rasa rindu selesai dan
sirna seketika, dapat berada di kota kelahiran. Bukan saudara atau orang tua
saja rasa rindu di kota ini tapi alangkah indahnya kerinduan ini dibarengi
dengan rasa syukur yang terus terucap. Suasana kota dan masyarakatat terutama
teman seperjuangan yang pernah ikut andil kedewasaan saya sampai saat ini. Teman
karip teman bermain dikota ini.
Setelah sampai dirumah
rasa kangen kepada ibu dan bapak yang telah membesarkan saya tidak hanya
melalui pendidikan formal tapi dengan ucapan yang baik serta contoh perjuangan
yang nyata di dunia. keningpun kusematkan kepada kedua orang tuaku tanpa malu
tanpa melihat setatusku yang sekarang menginjak umur 20 tahun. Yang status sebagai
mahasiswa ini. Setelah lama ngobrol perihal keadaan dan sebaganya kegiatan di
Kota pendidikan. Kesempatan ini pun tidak tersia-siakan begitu saja rasa
bertemu dengan teman dirumah itu nilai yang paling mahal di Kota ini. Udah lama
tidak kumpul terutama teman kerabat sekolah yang sekarang juga menempuh pendidikan
diperguruan tinggi di salah satu Tulungagung. Rasa pun tidak pernah berbohong
rasa pun memutuskan untuk mengakhiri libur akhir pekan ini dengan menikmatin
kopi dimalam hari dikota tercinta. kota yang terkenal dengan warung kopinya dan
terkenal dengan pesona cetenya (melukis
rokok dengan ampas kopi yang telah dipakai yang mengendap dibawah). Setelah
memberi kabar kepada teman. Tentang kepulanganku ke kota dihari liburan ini. Dari
rumah akupun menemui temanku kerumahnya yang tidak jauh dari rumah saya. Tentu
kedatanganku disambut dengan baik. Sebuah pelukan yang diberikan teman saya
tanda kalu rasa rindu ini benar-benar terjawab. Dan rasa rindu lama kepengen
ngopi diwarkop didaerah kami. Tentu destinasi
pertama kami yang kami kunjungi tempat ngopi. Warkop yang cukup unik menurut
kami karna namanya yang yang mengambarkan penyajian kopinya yaitu. CETOL atau kepanjanganya (cangkir
pentol) atau dalam bahasa indonesia nya yaitu cangkir yang tidak ada atau
dicopot peganganya atu garannya. Selain tempat ngopi tempat ini menyajikan
karaoke. Dekorasi warkop ini layaknya seperti pasar. Kenapa rasa dan pikiran yang
terbesit seperti itu ramainya dan lampu-lampu yang menghiasinya.
Menu andalan diwarkop
kesayangan kami untuk melepas rindu ini tentunya kopi hijau dan kopi hitamya
dan saya putuskan memesan kopi hitam. Yang menurut gambaran aromanya yang harum
dan khas dan rasanya yang pahit. Karena gambaran dan filosofi kopi yang “mengambarkan kehidupan manusia yang kadang
pahit tapi dalam hidup yang pahit itulah masih ada rasa harum dan nikmatnya
kepahitan hidup tersebut ada rasa yang menyenankan dan Sebuah tantangan yang
harus dan harus harus dinikmatin”. Tapi alangkah indahnya daya
pikat suasana dan harumnya kopi yang sudah tersedia di atas meja tidak berhasil
menarik perhatian teman saya.
Tundukan dan terus
menunduk yang dilakukan teman saya. Ini ternyata bukan tertuju pada kopi yang
hitam pekat di atas meja. Perhatiannya tersita pada sebuah alat komunikasi masa
kini berupa smartphone kesayanganya. Dia sibuk sekali dengan gadgetnya. Sampai
sibuknya teman saya ini. harum rayuan maut kopi hijau hitam ini bahkan sama
sekali tak digubrisnya. Rasa bingung pun sampai teman yang jauh ini yang jarang
bertemu ini sampai tidak lepas dari acuanya sampai akupun berfikir. Mungkin
teman saya masih ada urusan komunikasi dengan seseorang yang sangat penting
yang bisa merubah hidupnya.
Saya pun membiarkanya
dulu sambil saya nikmatin kopi dimalam ini yang ku nikmatin dengan suasana
disekeliling yang sangat ramai yang diatapin oleh langit yang gelap dan
dihiasin bintang bintang yang menyala sendiri tanpa bantuan matahari. Seperti manusia yang
bisa hidup dan memperjuangkan orang lain dengan sendiri sepererti pepatah jawa
mengatakan “Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih
Tanpa Bandha”
Artinya Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan.
Artinya Berjuang tanpa perlu membawa massa, Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan. Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan, kekayaan atau keturunan, Kaya tanpa didasari kebendaan.
Tidak sampai di situ
saja, setelah saya berikan waktu untuk teman saya fokus ke alat komunikasnya
berupa smartphone tapi dia tetap
terus samapai tidak memberi saya pertanyaan yang mungkin bisa saya jawab yang
bisa menyelesaikan rasa kangen teman saya ke saya. Dari pada saya menungu dia
bertanyak saya bertanyak dan mengajak ngobrol dulu aja dari pada sampai larut
malam tidak ada obrolan pertanyakan dan pembahasan sama sekali. Tak kala
didalam obrolan atau pembahasan disitu terjalinya sebuah komunikasi yang sangat
bermanfaat atu penyelesaian masalah saat sebuah pertanyakan muncul. Pertanyakan
demi pertanyakan demi pertanyaan saya
sampaikan diapun menjawap tapi fokus menjawabnya tidak memandang yang bertanya
tapi tetap fokus yang dia pegang parahnya lagi teman saya hanya menjawap
pertanyaan saya tidak ada balasan dia bertanyak balik kepada saya. Sampai saya
pun menyerah mengajak ngobrol dengan teman saya, saatya pun melanjutkan
menikmatin kopi dan teman saya menikmatin smartphonenya.
Sampai ketemuan dan
ngopi kita selesai dan kita keluar dari tempat ngopi tersebut. Teman saya
kepalanya terus menunduk melihat smartphone (padahal ia sambil berjalan). yang
jarah warkop dengan rumah kami tidak jauh dan Sangat disayangkan. Padahal kami
jarang sekali bertemu dan ada waktu yang tidak lama. Kami jarang pergi keluar ngopi
seperti dulu waktu kita belum sibuk seperti saat ini rumah tetangakan seperti
ini. Tapi waktunya tersita habis hanya untuk benda yang berdimensi kurang
lebih 142 x 71 x 7,9 mm tersebut.
Tidak hanya sekali ini
saja ajakan ngobrol saya sempatkan malam berikutnya tapi ditempat yang berbeda teman
saya yang sama kemari saya ajak saya ajak kembali untuk saya ajak ngobrol demi
menjalin komunikasi yang tidak sempat tersambung. Pada waktu pertemuan lalu
bersama teman saya ini. Tetapi saya aja ditempat yang berbeda yaitu sebuah
acara konser musik band band lokal yang berada di sebuah gedung tersebut juga terdapat
grub band beralirkan pop musi eropa kalau saya bilang yaitu beberapa musisi
lokal yang menyanyikan Lagu-lagu dari Justin Bieber yang dinyanyikannya
menggema seantreo gedung.
Namun, semangat musisi
di atas panggung tak diikuti para penonton dan tentunya teman saya salah satu
ini. Mereka (para penonton) yang duduk di bangku yang disediakan panitia
untuk dapat menikmati dentuman musik para musisi, malah kompak menunduk
berjamaah (membaca: main handphone)
Tidak dapat disangkal,
bahwa handphone sekarang telah menjadi kebutuhan primer bagi masyarakat.
Bahkan tingkat kepentingannya berada satu tingkat di bawah makan (pangan),
pakaian (sandang), dan rumah (papan). Perlu diingat saya
sebagai makluk sosial ini yang pastinya butuh komunikasi dengan orang lain ini
yang sangat jelas tujuan kenapa kita perlu bersosialisasi karena kita adalah
makhluk sosial. Kita butuh berinteraksi sesama makhluk hidup agar
kebutuhan bersosial kita terjamin dan terpenuhi, sebagai makluk sosial.
Jika bermain gadget
berlebihan, secara tidak langsung kita mengacuhkan keadaan sekitar. Banyak
momen berharga yang hilang begitu saja karena ulah gadget. Semisal, kita
bertemu dengan kawan lama,seperti saya saat ini karena asik sendiri dengan gadget,
kesempatan untuk saling bertanyak dan berinteraksi hilang begitu saja. saya
tanya, apakah Anda rindu melihat kalian-kalian dulu bermain bola di lapangan
sepak bola dengan azan magrib sebagai waktu full time? Apakah Anda rindu
melihat masjid atau musola ramai oleh anak-anak yang tadarus
bersama setelah magrib?
Apakah Anda rindu
melihat para orang tua menemani anak-anaknya bermain di taman pada senja hari?
Apakah Anda rindu melihat para pemuda atau mahasiswa berbondong-bondong ke
perpustakaan untuk membaca buku tanpa mengkhawatirkan keberadaan sinyal wifi? Selain hilangnya
momen-momen di atas yang identik dengan tahun 90an,walaupun saya lahir tahun
90an akir, ternyata handphone juga dapat mengurangi kemampuan bersosial
kita. Tanpa kita sadari, karena gadget dapat menjawab hampir semua pertanyaan
yang kita tanyakan melalui mesin Google-nya sehingga kita tidak membutuhkan
lagi bertanya sesuatu kepada orang lain.
Padahal melalui
interaksi secara langsung dengan orang lain, kita dapat mendengarkan sudut
pandang yang berbeda sehingga pemikiran-pemikiran kita pun beragam.karna dengan
kita berkomunikasi dan ngobrol pastinya ada pembahasan dan berani bertanyak dengan
keberanian bertanyak tersebut kita mendapatkan jawapan dan pendapat orang lain
dari sudut pandang yang berbeda dari jawapan kita.
Kita sebagai mahasiswa
dan pemuda indonesia bukan saatnya seperti ini kita harus terus belajar dengan
hal hal nyata yang dapat dilihat langsung dan yang berada disekitar kita kita
sebagai mahasiswa harus peka terhadap kondisi lingkungan masyarakat dan
kebijakan pemerintaan bukan peka terhadap suara suara yang berbunyi disebuah
benda yang berdimensi kurang lebih 142 x 71 x 7,9 mm tersebut. dengan
alasan komunikasi dan mendapatkan informasi sebuah karakter atau sifat manusia
terbentuk bukan karna belajar atau sifat keturunan orang tua tapi sifat atau
karakter kepekaan manusia karna pembiasaan perilaku kita. yang perlu diubah
pemuda sekarang yautu perlunya kepekaan komunikasi disekitarnay bukan peka yang
berdada yang jauh yang belum tentu kebenaranya secara terlihat mata.
menurut sebuah
penelitian dari Digital GFK Asia (2016), perempuan Indonesia setidaknya menghabiskan
waktu selama 5,6 jam per hari saat mengutak-utik
layar smartphone mereka. Sementara itu, untuk laki-laki selama 5,4
jam per hari. Kesimpulan yang bisa diambil adalah, hampir ¼ hidup orang-orang
Indonesia dihabiskan untuk “menunduk”. Melihat kondisi ini. pak SBY pun pasti
berkomentar di Twitter: “Luar biasa ini, Naudzubillah. Tak masuk di akal saya.”
Karena keseringan menunduk. Generasi nunduk (PS: sebutan untuk gadget
addict) akan merasa pegal di bagian leher dan punggung karena meningkatnya
tekanan pada otot leher dan punggung. Lalu juga ada penyakit sejenis bernama
“motion sickness digital”, yang biasanya berkisar dari sakit
kepala hingga membuat pusing.
The New York
Times baru-baru ini menjulukinya sebagai “penyakit maya”. Ini adalah
kondisi di mana smartphone membuat Anda merasa seperti sedang menaiki
roller coaster. Hal ini dapat terjadi jika Anda terlalu cepat
menggulirkan (scrolling) halaman atau menonton video action di
layar smartphone Anda. Akhir-akhir ini saya berusaha mengurangi
intensitas memegang smartphone. Berbagai tips dan trik sudah saya tonton
di Youtube maupun saya Brousing brousing di gadget
saya yang jadul ini dan saya mempunyai cara sendiri.
Caranya? Saya menyentuh
smartphone hanya di 5 waktu dalam sehari. Setiap waktunya dibatasi 25 menit,
kecuali pagi hari, biasanya kurang lebih 45 menit karena untuk membaca sebuah
kebiasaan yang mulai saya sukai dan tekunin karana saya merasa dampaknya sangat
besar bagi saya insya allah semoga bagi orang lain juga. Saya juga telah
mendapatkan dan membaca sebuah artikel blok tentang waktu tepat untuk
memanfaatkan mengunakan smartphone yaitu memainkan smartphone saya pada pagi
hari sesudah salat subuh (45 menit), sesudah salat zuhur (25 menit), sesudah
salat ashar (25 menit), sesudah salat magrib (25 menit), dan sebelum waktu
tidur (25 menit).tapi metode ini tidak berlaku saat saya diwajibkan harus aktif
memegang handphone seperti acara kepanitiaan Organisasi, atau ada janji penting
dengan teman. Dan yang terakhir, gadget diciptakan untuk membantu kita, bukan
mengontrol kita. Cobalah log out media sosial Anda, letakkan gadget Anda
sejenak, pergilah keluar rumah, hirup udara segar, dan berinteraksilah dengan
orang-orang sekitar. Saya berani jamin, hidup Anda akan jauh lebih berkualitas.
Semoga tulisan saya
yang singkat ini bisa bermanfaat walaupun belum tentu benar tulisan saya ini
saya sendiri pun masih belajar dan belum tentu melakukan hal yang saya sarankan
pada tulisan saya ini tapi saya hanya mecoba membantu orang lain karna dala
manusia memang diajarkan untuk membantu dalam ajaran apaun seperti pepatah jawa “Urip Iku Urup” (Hidup itu Nyala). Hidup itu hendaknya memberi manfaat bagi orang lain disekitar kita, semakin
besar manfaat yang bisa kita berikan tentu akan lebih baik, tapi sekecil apapun
manfaat yang dapat kita berikan, jangan sampai kita menjadi orang yang
meresahkan masyarakat dan saya menulis memang untuk dikenang orang karena saya
tau jika ingin dikenang menulislah, Karena dengan menulis saya mengikat ilmu
yang telah saya pelajarin dan jika ingin tau dunia membacalah.
Komentar
Posting Komentar