Buruh aksi lagi ? Ya. Mogok lagi ?
Ya.
Bikin jalan macet ? Ya.
Buat apa lagi ? HARI BURUH 1 MEI!
Oleh: Slamet
Rianto, Mahasiswa
Perhatikan apa
yang hendak kami sampaikan. Jangan berburuk sangka dulu. Kami sendiri
sebenarnya sudah ogah mogok: panas didera terik matahari dan capek menahan
lapar-haus. Mogok melelahkan kami. Kami terpaksa mogok. Mogok bukan kemauan
kami. Tidak ada pilihan lain, sebenarnya mekanisme-mekanisme yang seharusnya
berjalan teryata macet.
Legislatif asyik bermain politik
kekuasaan. Kepolisian tetap represif, Preman ikut campur, Depnaker tidak
memperdulikan kami, Pemerintah bikin undang-undang yang menyunat hak kami,
Perusahaan tidak mau diajak dialok. Lima belas tahun lebih Reformis tidak
membawa Perubahan bagi kami. Kondisi nyata tetap sama sebab sistem Orde Baru
masih berjalan. Nasib kami tidak menjadi lebih baik.
Perhatikan apa yang hendak kami
sampaikan wahai kalian para pemilik modal. Jangan berburuk sangka dulu. Bahwa
apa yang kami suarakan adalah hal yang rasional. Tuntutan kami masuk akal...
Historis Demostrasi
buruh yang terjadi di Indonesia dulu sampai sekarang memang memunculkan sebuah
fenomena yang menarik. Di media sosial dan portal berita, yang menayangkan
berita demo buruh, selalu ramai dengan komentar para pengguna internet.
Sebagian mendukung secara positif, yang lain berkomentar sinis.
Para penentang mengatakan bahwa tuntutan buruh
tidak masuk akal dan aksinya telah mengganggu kepentingan umum. Mereka bahkan
menyalahkan buruh sendiri atas kemalangan yang menimpanya. Di sisi lain, buruh
dan pendukungnya mengidentifikasi penentangnya sebagai kelas menengah ngehek.
Ini sindiran bagi kelompok masyarakat, biasanya di perkotaan, yang penggerutu,
manja, selalu mengeluh dan menuntut kenyamanan hidup dengan penghasilan yang
hanya sedikit di atas rata-rata.
Menarik untuk diikuti, bagaimana dua kelompok yang
pada dasarnya sama-sama lahir dari rahim industrialisasi tersebut mendaku
berbeda satu sama lain. Bagaimana sebenarnya jalan sejarah gerakan buruh dan
persimpangannya dengan kelas menengah Indonesia ?
“Aku tundukan kepala yang sedalam-dalamnya
untuk para Martir, pejuang Pro-demokrasi, pejuang anti kediktatoran Orba baik
yang dikenal maupun yang sama sekali tidak dikenal oleh publik, yang dengan
gagah berani telah dan pernah menyumbangkan miliknya, bahkan nyawanya untuk
Orang banyak…. Wiji Thukul, Herman Hendrawan, Bimo Petrus, Suyat, Moses Gatot
Kaca, Yun Hap, Iqbal, Temu, Munir, Marsinah dan ribuan nama-nama Angkatan muda
lainya yang gugur dalam perjuangan disekitar Mei 98...” (Mengenang Mei 1998).
Indonesia memiliki sejarah gerakan buruh yang
panjang. Kesadaran buruh untuk berserikat tumbuh bersamaan dengan meluasnya
industrialisasi di awal abad 20, ketika dibentuk serikat buruh pertama di Jawa
untuk buruh perusahaan kereta api.
Gerakan buruh kemudian mencatatkan sejarah saat
pemogokan buruh kereta api di Jawa yang dipelopori oleh Serikat Buruh Kereta
Api dan Kereta Listrik (VSTP) Semarang pada 1923. Dari Semarang, pemogokan
menjalar ke kota-kota dimana VSTP memiliki cabang. Menurut John Ingleson, pemogokan
ini merupakan yang terbesar dan terluas selama masa kolonial. Diikuti oleh para
buruh dari kota-kota jaringan kereta api yang terkonsentrasi di Jawa Tengah dan
Jawa Timur, seperti Tegal, Pekalongan, Cirebon, Surabaya, Kediri dan Madiun
(Ingleson, 2013: 68
Tetapi sayangnya, gerakan buruh yang mulai membesar
tersebut sejak awal tidak diiringi dengan menguatnya kesadaran kelas. Buruh di
masa kolonial terbagi-bagi dalam kategori keahlian dan etnis. Hal ini terjadi
karena kebijakan negara kolonial yang diskriminatif. Membagi masyarakat dalam
kasta-kasta berdasarkan etnis.
Dalam dunia kerja, diskriminasi tersebut membuat
posisi-posisi penting dalam sebuah perusahaan selalu di bawah kendali orang
Eropa. Sebagian besar dari mereka sebenarnya pekerja penerima upah, sama dengan
buruh. Tetapi mereka adalah puncak dari piramida sosial rasis yang berhak atas
keistimewaan-keistimewaan, termasuk besaran upah dan jenjang karier.
Garis-garis pemisah antar buruh kemudian semakin
diperunyam dengan pertentangan horizontal. Manajemen perusahaan dengan jitu
memanfaatkan sentimen kesukuan dan kedaerahan dalam menghadapi gerakan buruh.
Ketika terjadi pemogokan buruh Madura di pelabuhan Surabaya pada 1919,
orang-orang Bugis dan Minahasa dipekerjakan supaya pelabuhan tetap beroperasi.
Ketika pekerja Jawa mogok, giliran orang-orang Madura yang menyelamatkan
operasional perusahaan. Kondisi tersebut membuat kesadaran kelas sebagai massa
buruh yang mempunyai rasa senasib ketika berhadapan dengan kepentingan
kapitalis, sebagaimana yang terjadi di Eropa, tidak terwujud. Kecemburuan etnis
dan ras mengalahkan kesadaran kelas pekerja.
Kelas menengah Indonesia pun lahir di saat yang
hampir bersamaan. Kelompok ini terbentuk karena semakin kompleksnya
penyelenggaraan negara dan meningkatnya kebutuhan industri akan pekerja
terpelajar. Pasca liberalisasi dan meluasnya industrialisasi Hindia Belanda,
diferensiasi pekerjaan bertambah. Terdapat banyak lowongan yang dibuka untuk
jenis-jenis pekerjaan yang membutuhkan kualifikasi tertentu. Kemampuan membaca
dan menulis serta keahlian teknis menjadi kebutuhan yang mendesak Begitu pula
dengan birokrasi yang semakin modern dan membutuhkan banyak tenaga kerja baru
yang terpelajar di kantor-kantor pemerintahan.
Awalnya posisi-posisi tersebut biasanya diisi oleh
pekerja Eropa. Tetapi mempekerjakan mereka memerlukan biaya yang besar. Upahnya
tinggi, belum lagi berbagai tunjangan dan fasilitas yang harus disediakan
perusahaan. Solusinya kemudian adalah merekrut pekerja pribumi yang terdidik.
Yang bisa dibayar murah dengan kemampuan yang setara dengan pekerja Eropa.
Untuk itu dunia pendidikan dibenahi. Melalui
kebijakan yang dikenal sebagai Politik Etis 1901, sekolah-sekolah kejuruan
dibuka dan aturan-aturan diperlonggar agar semakin banyak pribumi yang bersekolah.
Tujuannya agar semakin banyak tenaga kerja yang tersedia untuk industri.
Kelompok baru tersebut kemudian tumbuh menjadi
elite baru di masyarakat. Posisi mereka berada di antara elite lama yang feodal
dan kaum marjinal. Sebagian dari mereka mengambil bagian dalam pergerakan
nasional, dan yang lain larut dalam gaya hidup perkotaan kolonial.
Elite baru ini menjadi priyayi baru yang
prestisenya tidak lagi ditentukan atas penguasaan tanah, tetapi pada perannya
dalam birokrasi dan industri kolonial. Umumnya mereka terdiri dari guru,
mantri, juru tulis, kerani perkebunan, pegawai rendahan pada kantor pemerintah
atau buruh-buruh pribumi terpelajar yang terserap dalam industri.
Dalam melihat gerakan buruh, golongan ini mempunyai
sikap yang ambivalen. Pada dasarnya mereka juga buruh penerima upah dan
diuntungkan jika tuntutan-tuntutan massa buruh mendapat respon manajemen.
Tetapi mereka mengelak dari resiko untuk bergabung dalam gerakan buruh. Pada
diri mereka telah terdapat perasaan bahwa mereka berbeda dengan buruh
kebanyakan yang hanya mengandalkan tenaga kasar.
Pada beberapa kasus, justru kelompok tersebut
digunakan oleh pengambil kebijakan untuk melemahkan gerakan buruh. Menurut
Ingleson, kelompok pekerja terampil bertanggung jawab dalam kehancuran serikat buruh
pabrik gula setelah tahun 1921 serta keretakan yang terjadi di antara guru-guru
dan para pegawai pegadaian.
Memasuki era kemerdekaan, gerakan buruh masih
mewarisi struktur yang terbentuk dari masa kolonial. Kesadaran kelasnya masih
lemah. Dalam perjalanannya kemudian, gerakan buruh justru mengalami kemunduran.
Ketika Orde Baru berkuasa, mereka semakin kocar-kacir. Pemogokan dan
demonstrasi yang sejak semula menjadi strategi buruh dalam memperjuangkan
tuntutannya diberangus.
Dalam masa itu kita melihat semakin memudarnya
kelas buruh. Kesadaran kelas yang sejak awal tidak terbangun dengan kuat
membuat banyak kelompok-kelompok pekerja, yang di zaman kolonial menjadi tulang
punggung gerakan buruh, mudah melepaskan diri dari perasaan senasib sebagai
massa buruh.
Mereka kemudian mengambil posisi sebagai kelas
menengah yang berjarak dari massa buruh. Tetapi kelas menengah tersebut rentan
secara sosial dan ekonomi. Sedikit gejolak saja membuatnya kehilangan
kemapanan. Mereka sangat mendamba kestabilan. Kita ingat, hingga tahun 1950-an,
orang-orang masih mengenang masa kolonial sebagai zaman normal. Zamannya para
priyayi baru menikmati hidup dengan nyaman. Dan masa revolusi adalah jeda yang
mengganggu.
Keinginan akan kestabilan ini membuat mereka
memiliki pandangan yang apolitis. Disinilah mereka bertemu dengan massa buruh,
yang setelah reformasi, meningkatkan kembali kerja politiknya. Mereka
mengorganisir diri, menggalang dukungan, mengajukan tuntutan dan melakukan
langkah-langkah konkrit untuk mengajukan aspirasi.
Dalam hal ini, terlihat adanya kecemasan yang
menjangkiti kelas menengah. Kelas menengah Indonesia, yang jumlahnya semakin
besar, telah cukup lama terpisah dari massa buruh dan merasa mapan dengan
status sosial yang ditopang upah yang hanya sedikit di atas rata-rata buruh.
Ketika kemudian buruh bergerak dan mengajukan tuntutan perbaikan kesejahteraan,
wajar saja jika ada rasa ketakutan akan hilangnya kenyamanan tersebut. Dan
saling risak adalah riak-riak kecil saja dari kecemasan itu.
Hidup
Mahasiswa, Hidup Rakyat Indonesia, Hidup Buruh Internasional !!!!
Dari mana dasar argumen anda
BalasHapusTulisan ttg agenda bem kmrn yg membahas gerakan mahasiswa bagus utk ditulis isi forumnya, supaya yg lain juga dpt ilmu dan dpt pelajarannya.
BalasHapusterimakasih banyak atas masukanya, semoga tulisan berikutnya bisa lebih bermakna
Hapus